News
Sumatera Menangis, Ketika Alam Balas Bicara, Timbul Luka yang Mengoyak Satu Bangsa

Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?
Sumatera sedang tidak baik-baik saja. Sejak 24 November 2025 lalu, rangkaian bencana banjir bandang dan tanah longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. Kampus Mania harus menyadari bahwa angka-angka yang dirilis BNPB per 2 Desember 2025 bukan sekadar statistik dingin, mereka adalah nyawa, keluarga, dan harapan yang terkubur.
-
659 jiwa telah berpulang.
-
475 orang masih dalam pencarian di bawah timbunan lumpur.
-
2.600 orang menderita luka-luka.
-
3,2 juta jiwa hidup dengan trauma dalam pengungsian.
Bagi Kampus Mania yang sekarang sedang duduk di bangku kuliah atau bekerja di balik meja, angka jutaan terdampak mungkin hanya deretan digit. Namun, bagi warga di lapangan, ini adalah realita di mana rumah hanyut hingga atap, dan jalan-jalan utama kini hanya berupa patahan aspal yang tak bisa dilewati.
Mengapa Dampaknya Begitu Parah?

Sumber: acehsatu.com
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, memang menyebut fenomena Siklon Tropis Senyar berperan sebagai dalang di balik curah hujan ekstrem yang "berwarna hitam" pada peta satelit. Hujan yang seharusnya turun perlahan selama sebulan, tumpah sekaligus selama tiga hari.
Namun, Kampus Mania harus berani bertanya, Apakah air hujan sehebat itu mampu menghancurkan ribuan rumah jika benteng alam kita masih kokoh?
Secara saintifik, hutan dengan pohon dikotil adalah "mesin pelindung" alami. Akar mereka adalah jala baja yang mengikat tanah, sementara kanopinya adalah peredam jatuh air. Namun sayang, gelondongan kayu besar yang terseret aliran sungai saat banjir bandang memperkuat dugaan adanya praktik penebangan liar (illegal logging). Kayu-kayu tersebut bukan sekadar sampah hanyut alami, melainkan indikasi kuat bahwa terjadi deforestasi di wilayah hulu. Hal ini menjelaskan mengapa dampak kerusakan menjadi jauh lebih brutal dibandingkan jika kondisi hutan masih terjaga dengan baik.
Update Maret 2026 Menuju Pemulihan
Memasuki Maret 2026, upaya pemulihan terus dikebut. Kementerian Keuangan di bawah Purbaya Yudhi Sadewa telah meluncurkan dana yang besar senilai Rp 4,39 triliun per akhir Februari untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Di lapangan, Kampus Mania dapat melihat sisi terbaik kemanusiaan. TNI, Polri, dan relawan bahu-membahu membersihkan sisa material. Namun, teradapat kendala yang diungkapkan oleh masyarakat. Di beberapa titik, renovasi fasilitas umum seperti masjid yang rusak total diprediksi baru selesai pada Idul Adha 2026, meleset dari target awal Lebaran.
"Kami menyadari kemampuan kami terbatas, untung ada pihak luar yang membantu," ujar Muhammad Syawal, salah satu warga terdampak.
Karena kerusakan yang sangat berat, target renovasi beberapa bangunan penting yang awalnya direncanakan rampung sebelum Lebaran terpaksa diundur hingga Hari Raya Idul Adha 2026.
Keterlambatan ini menjadi catatan penting bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya mengandalkan semangat gotong royong warga. Diperlukan manajemen birokrasi yang lebih taktis agar target-target krusial, seperti renovasi rumah, tempat ibadah, dan fasilitas umum, tidak terus berjalan dengan lambat.
Bergerak Sebelum Terlambat

Sumber: antaranews.com
Pengerahan 11 helikopter oleh pemerintah serta peninjauan langsung Presiden Prabowo di posko Tapanuli Tengah merupakan langkah taktis yang patut diapresiasi dalam fase darurat. Namun, tindakan ini masih tergolong kewajiban yang memang harus dilakukan setelah bencana terjadi. Pertanyaannya, apakah Kampus Mania harus menunggu target "Indonesia Emas 2045" hanya untuk memiliki sistem mitigasi bencana yang benar-benar mumpuni dan terintegrasi?
Bencana Sumatera 2025 adalah pengingat keras bagi semua pihak. Dari wilayah Langkat hingga Pesisir Selatan, masyarakat terus membutuhkan lebih dari sekadar bantuan logistik sementara, mereka membutuhkan komitmen politik dan kebijakan nyata untuk menghentikan kerusakan ekosistem.
Data kerusakan yang aktif ini seharusnya tidak hanya menjadi berita yang berlalu lalang di lini masa media sosial. Sebagai elemen masyarakat, Kampus Mania harus terus mengawal kebijakan lingkungan yang mengabaikan kelestarian alam. Upaya pencegahan bencana tidak boleh hanya berhenti di tataran teori atau sekadar kunjungan formal pejabat di lapangan. Jangan sampai Kampus Mania baru sibuk berbenah saat dampak kerusakan alam berikutnya datang dengan skala yang jauh lebih fatal.
Written by
zhahra wintrissa
